By
: Nur Sofiatun Rosidah
Siapa yang tidak kenal pemimpin kota pahlawan saat
ini? Tegas, terampil, ke-ibuan, berkompeten dan cerdas. Perempuan satu ini
lahir di Kediri – Jawa Timur, pada tanggal 20 november 1961. Memiliki status
Istri,Ibu sekaligus Nenek dalam urusan keluarga, tidak menjadi halangan baginya
untuk berkarir dan berkiprah dalam kanca politik Indonesia. Telah menyelesaikan
pendidikan S2 di universitas kebanggan Surabaya, ITS ( Institut Teknologi 10
Nopember Surabaya ) . Kiprah awalnya sebagai kader PDIP, hingga menjadi Kepala
Seksi Tata Ruang Kota (1997), Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Pembangunan
(2001), Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota (2005). Tak gentar
membuatnya terus berkembang dan membenahi kotanya arek – arek bonek ini.
Sederet prestasi telah ia raih, prestasi kota hingga
prestasi wali kota terbaik ketiga didunia.
Menjadi pemimpin itu bukan perkara gender, namun
menjadi pemimpin itu perkara manusiawi. Tidak hanya sang laki – laki saja yang
sah menjadi seorang pemimpin, namun “Emansipasi Wanita” di era reformasi saat
ini telah dijunjung. Pemimpin dipilih karena tau apa yang diinginkan dan
dibutuhkan oleh warganya dan yang bisa membuat warganya semakin sejahtera. Pemimpin
juga harus dapat menjadi contoh atau suri tauladan bagi warganya, agar mereka
juga sadar bahwa sang pemimpin saja tidak melakukanya “hal yang buruk atau
merugikan” padahal sang pemimpinlah yang memperbaiki dan membangun, namun
mengapa warganya justru merusak dan tak merawatnya???
Mengartikan sederet kata “Feminisisme” dalam judul
yang saya angkat kali ini, menguak sisi ketangguhan dari sosok pemimpin kota
Surabaya satu ini. Melihat sang perempuan yang kerap disapa “Bu Risma” ini,
kita melihat bahwa tidak ada perbedaan signifikan mengenai kepemimpinan hanya
diukur dari sisi gendernya. Namun, keterlibatan kita dan kontribusi apa yang
kita berikan pada kota tercinta kita
ini???
Stereotipe masyarakat saat ini tentu harus dirubah,
dengan adanya perkembangan jaman yang semakin canggih, di era digital tentu
semuanya bisa dilakukan, dengan adanya jangkauan internet semuanya bisa
dipelajari. Contoh ketika pekerjaan ataupun beberapa hal yang dilakukan oleh
para lelaki saat ini perempuan telah bisa melakukannya, begitu sebaliknya.
Futsal putri - futsal putra, walikota, rektor,
kepala sekolah, manager, tukang parkir, photographer dan lain sebagainya. Itulah
beberapa contoh nyata dalam kehidupan yang pernah saya temui. Awalnya mindset
saya dari beberapa contoh yang telah saya sebutkan diatas, hanya bisa dilakukan
oleh seorang laki – laki, namun “jaman now” tidak ada perbedaan gender untuk
melakukan semua hal tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar