Kamis, 12 Oktober 2017

SISI FEMINISME PEMIMPIN SURABAYA

By : Nur Sofiatun Rosidah


Siapa yang tidak kenal pemimpin kota pahlawan saat ini? Tegas, terampil, ke-ibuan, berkompeten dan cerdas. Perempuan satu ini lahir di Kediri – Jawa Timur, pada tanggal 20 november 1961. Memiliki status Istri,Ibu sekaligus Nenek dalam urusan keluarga, tidak menjadi halangan baginya untuk berkarir dan berkiprah dalam kanca politik Indonesia. Telah menyelesaikan pendidikan S2 di universitas kebanggan Surabaya, ITS ( Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya ) . Kiprah awalnya sebagai kader PDIP, hingga menjadi Kepala Seksi Tata Ruang Kota (1997), Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Pembangunan (2001), Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota (2005). Tak gentar membuatnya terus berkembang dan membenahi kotanya arek – arek bonek ini.
Sederet prestasi telah ia raih, prestasi kota hingga prestasi wali kota terbaik ketiga didunia.

Menjadi pemimpin itu bukan perkara gender, namun menjadi pemimpin itu perkara manusiawi. Tidak hanya sang laki – laki saja yang sah menjadi seorang pemimpin, namun “Emansipasi Wanita” di era reformasi saat ini telah dijunjung. Pemimpin dipilih karena tau apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh warganya dan yang bisa membuat warganya semakin sejahtera. Pemimpin juga harus dapat menjadi contoh atau suri tauladan bagi warganya, agar mereka juga sadar bahwa sang pemimpin saja tidak melakukanya “hal yang buruk atau merugikan” padahal sang pemimpinlah yang memperbaiki dan membangun, namun mengapa warganya justru merusak dan tak merawatnya???
Mengartikan sederet kata “Feminisisme” dalam judul yang saya angkat kali ini, menguak sisi ketangguhan dari sosok pemimpin kota Surabaya satu ini. Melihat sang perempuan yang kerap disapa “Bu Risma” ini, kita melihat bahwa tidak ada perbedaan signifikan mengenai kepemimpinan hanya diukur dari sisi gendernya. Namun, keterlibatan kita dan kontribusi apa yang kita  berikan pada kota tercinta kita ini???

Stereotipe masyarakat saat ini tentu harus dirubah, dengan adanya perkembangan jaman yang semakin canggih, di era digital tentu semuanya bisa dilakukan, dengan adanya jangkauan internet semuanya bisa dipelajari. Contoh ketika pekerjaan ataupun beberapa hal yang dilakukan oleh para lelaki saat ini perempuan telah bisa melakukannya, begitu sebaliknya.
Futsal putri - futsal putra, walikota, rektor, kepala sekolah, manager, tukang parkir, photographer dan lain sebagainya. Itulah beberapa contoh nyata dalam kehidupan yang pernah saya temui. Awalnya mindset saya dari beberapa contoh yang telah saya sebutkan diatas, hanya bisa dilakukan oleh seorang laki – laki, namun “jaman now” tidak ada perbedaan gender untuk melakukan semua hal tersebut.   
  


0 komentar:

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)