Jumat, 20 Oktober 2017

Analisis Data Kesetaraan Gender di Surabaya

Oleh : Nur Sofiatun Rosidah


Prinsip gender dalam pengetehuan pada umumnya yaitu beranggapan bahwa “Gender” hanya sebatas jenis kelamin laki-laki, perempuan ataupun keduanya. Itulah mengapa kategori blog yang kita angkat kali ini dengan tema ReId (Respect Identity). Anggapan masyarakat yang hingga detik ini masih saja seperti pernyataan diatas, sehingga dapat merubah stigma yang salah itu.

Gender yakni pembagian kedudukan, kebijaksanaan, terjadinnya variasi, dan gradasi sehingga hal tersebut mengalami perkembangan. Proses melakukan gender ada banyak hal misalnya, orang tua kita sejak lahir menyeimbangkan pernyataan yang ada ataupun beranggapan bahwa stigma itu 100% benar, adalah bayi laki-laki yang dominan menggunakan warna biru dan bayi perempuan mendominasi dengan warna pink (merah muda). Sub koordinasi tersebut yang menjadikan terjadinya penyimpangan atau ketidaksetaraan gender. Berdasarkan peraturan, ilmu pengetahuan dan kebijakan nilai-nilai yang diciptakan oleh masyarakat. Seolah mencengkram adanyanya pembagian kedudukan, dan seolah prinsip ini menjadikan kelompok perempuan berada dibawah laki-laki.

Mengapa terjadi ketidaksetaraan gender di masyarakat?
  1.  Pertumbuhan penduduk di Surabaya rata-rata laki - laki. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2013/jumlahpenduduk/jeniskelamin)




2. Tak jarang apabila pada posisi SMP (Sekolah Menengah Pertama) si perempuan telah putus sekolah, beranggapan bahwa kelak kau hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Terlebih para penduduk yang ada di pelosok yang kekurangan akan informasi sehingga membuat pola pikir yang sempit. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/jumlahpenduduk/pendidikan)


3. Apabila tahap kedua masih dapat dilanjutkan, beralih kejenjang SMA (Sekolah Menengah Atas). Tak heran bila banyak perempuan yang hanya berhenti sampai di tahap ini, dan memilih untuk menikah. Sedikit banyak dengan alasan yang sama ataupun hanya menghindari pengakuan sosial, keamaan image keluarga, dan faktor adanya doktrinasi atas strata pendidikan jenjang ini saja sudah cukup, maupun keadaan ekonomi keluarga yang mengharuskan si perempuan ini untuk memilih bekerja dari pada melanjutkan kejenjang berikutnya yaitu kuliah. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/jumlahpenduduk/pendidikan)



4. Si perempuan memang bekerja, namun hanya sebagai ibu rumah tangga.
(http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/pekerjaan/mengurusrumahtangga)

 

Alasan tersebut hanya mewakili beberapa alasan yang terjadi, mengapa terjadi ketidaksenjangan gender di masyarakat. Dari sumber data diatas Dispendukcapil Surabaya, menyebutkan bahwa akan ada akibat yang akan berdampak dan berkelanjutan dengan adanya keadaan seperti ini. Artinya keadaan seperti akan berdampak pada pola pikir masyarakat Surabaya mengenai sisi perempuan dan sisi laki – laki yang berbeda dengan jenis status pendidikan, usia, pekerjaan dan kebijakan lainnya. 
Cara Pandang kita harus dirubah!!!

Apa dampaknya?
HDI naik!!! apa itu HDI ? Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Kebebasan atas ekspresi pribadi. Adanya jenis kelamin laki-laki dan perempuan seharusnya menjadikan kedudukan seperti kutub yang bersebrangan.  

0 komentar:

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)