Prinsip gender dalam pengetehuan pada umumnya yaitu
beranggapan bahwa “Gender” hanya sebatas jenis kelamin laki-laki, perempuan
ataupun keduanya. Itulah mengapa kategori blog yang kita angkat kali ini
dengan tema ReId (Respect Identity). Anggapan masyarakat yang hingga detik ini
masih saja seperti pernyataan diatas, sehingga dapat merubah stigma yang salah
itu.
Gender yakni pembagian kedudukan, kebijaksanaan,
terjadinnya variasi, dan gradasi sehingga hal tersebut mengalami perkembangan. Proses
melakukan gender ada banyak hal misalnya, orang tua kita sejak lahir
menyeimbangkan pernyataan yang ada ataupun beranggapan bahwa stigma itu 100%
benar, adalah bayi laki-laki yang dominan menggunakan warna biru dan bayi
perempuan mendominasi dengan warna pink (merah muda). Sub koordinasi tersebut yang
menjadikan terjadinya penyimpangan atau ketidaksetaraan gender. Berdasarkan
peraturan, ilmu pengetahuan dan kebijakan nilai-nilai yang diciptakan oleh
masyarakat. Seolah mencengkram adanyanya pembagian kedudukan, dan seolah
prinsip ini menjadikan kelompok perempuan berada dibawah laki-laki.
Mengapa terjadi ketidaksetaraan gender di
masyarakat?
1. Pertumbuhan penduduk di Surabaya rata-rata laki - laki. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2013/jumlahpenduduk/jeniskelamin)
2. Tak
jarang apabila pada posisi SMP (Sekolah Menengah Pertama) si perempuan telah
putus sekolah, beranggapan bahwa kelak kau hanya menjadi seorang ibu rumah
tangga. Terlebih para penduduk yang ada di pelosok yang kekurangan akan
informasi sehingga membuat pola pikir yang sempit. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/jumlahpenduduk/pendidikan)
3. Apabila tahap kedua masih dapat dilanjutkan,
beralih kejenjang SMA (Sekolah Menengah Atas). Tak heran bila banyak perempuan yang
hanya berhenti sampai di tahap ini, dan memilih untuk menikah. Sedikit banyak
dengan alasan yang sama ataupun hanya menghindari pengakuan sosial, keamaan
image keluarga, dan faktor adanya doktrinasi atas strata pendidikan jenjang ini
saja sudah cukup, maupun keadaan ekonomi keluarga yang mengharuskan si
perempuan ini untuk memilih bekerja dari pada melanjutkan kejenjang berikutnya
yaitu kuliah. (http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/jumlahpenduduk/pendidikan)
4. Si
perempuan memang bekerja, namun hanya sebagai ibu rumah tangga.
(http://dispendukcapil.surabaya.go.id/stat_new/statistikkependudukan/2017/pekerjaan/mengurusrumahtangga)
Alasan tersebut hanya mewakili beberapa alasan yang
terjadi, mengapa terjadi ketidaksenjangan gender di masyarakat. Dari sumber
data diatas Dispendukcapil Surabaya,
menyebutkan bahwa akan ada akibat yang akan berdampak dan berkelanjutan dengan
adanya keadaan seperti ini. Artinya keadaan seperti akan berdampak pada pola
pikir masyarakat Surabaya mengenai sisi perempuan dan sisi laki – laki yang
berbeda dengan jenis status pendidikan, usia, pekerjaan dan kebijakan lainnya.
Cara Pandang kita harus dirubah!!!
Apa dampaknya?
HDI naik!!! apa itu HDI ? Human Development Index
(HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf,
pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Kebebasan atas
ekspresi pribadi. Adanya jenis kelamin laki-laki dan perempuan seharusnya
menjadikan kedudukan seperti kutub yang bersebrangan.





0 komentar:
Posting Komentar